Pages

Wednesday, October 7, 2015

Mata yang Menipu

Sebelumnya, saya rasanya perlu memberi peringatan pada pembaca blog ini bahwa dalam sesi kismis di Joglosemar, saya selalu yang menjadi pembuat antiklimaks, alias kisanak (kisah antiklimaks). Hal ini dikarenakan saya selalu mencari penjelasan nalar dari segala sesuatu, atau, membiarkan semuanya menjadi misteri begitu saja. Jadi kalau saya punya cerita, hampir selalu semuanya memberi emoticon roti marie begini -_-

Sekian pendahuluannya yang tidak penting, langsung saja inilah kisanak saya.

Di Solo, ada sebuah monumen di ujung jalan utama Slamet Riyadi (tepatnya di area Gladag) yang berupa patung Brigjend Slamet Riyadi sedang mengacungkan pistol. Dulu, setiap pulang kerja, rute saya dari ujung ke ujung jalan Slamet Riyadi. Kalau sekarang hanya setengahnya karena saya memutar melewati jalan lain. Meski hampir setiap hari melewatinya, saya sering tidak menghitung berapa perempatan yang saya lewati, atau perempatan mana yang terakhir, atau apa. Patokan saya untuk rumah yang sudah dekat hanyalah saat saya melihat patung Pak Slamet.

Patung Slamet Riyadi

Suatu ketika, saat saya pulang malam, seperti biasa saya menelusuri jalan Slamet Riyadi. Namun, setelah melewati perempatan yang saya duga terakhir, saya belum juga melihat patung yang pahlawan itu, padahal saya sudah melihat siluet pohon-pohon yang ada di baliknya, juga lampu-lampu yang bersinar tak seperti biasa. Saat itu juga terlihat lebih banyak orang berkerumun di sana. Sekadar info, di malam hari, jalan yang terletak tepat di belakang patung tersebut menjadi arena kuliner yang disebut Galabo (Gladag Langen Bogan).

Sumber gambar di sini

Saya masih melaju, semakin dekat, tapi tak juga menangkap sosok patung yang sudah bertahun-tahun berdiri di sana. Jantung saya berdebar, saya mulai tak berkonsentrasi pada jalan. Hingga saat jarak saya dengan tempat patung itu semakin dekat, barulah saya menyadari apa yang salah. Ternyata lampu-lampu sorot di kaki patung yang biasa menyinarinya mati (atau dimatikan). Beberapa meter dari patung, saya merasa lega sekaligus geli dengan ketegangan saya yang tak masuk akal.

bzee

Tuesday, October 6, 2015

Kismis 3 butir #4




Perayaan 7 hari meninggalnya ayahku baru saja usai dengan taburan tepung di atas ranjangnya. 
Esoknya kutemui cetakan tubuhnya membekas di atas ranjangnya. 
Ah, ayah pulang tadi malam.

By Lila

Monday, October 5, 2015

Kismis 3 Butir #3


Tengah malam itu, bayi mungil di gendonganku tak juga tertidur dan terus menangis. Kuajak dia bercanda, mengayunnya, tapi tangisnya tak juga mereda. Hingga matanya tertuju pada langit-langit kamar dekat kipas angin yang berputar, dan tiba-tiba tersenyum geli.

bzee

Thursday, October 1, 2015

Pengalaman Pertama Meditasi


 Gambar diambil dari Google :)

Oke, setelah lama mengendap di kepala dan ngga ada aksi buat nulis, akhirnya pengen nulis juga kisah....masuk horor ngga ya ini? Silakan baca and komen, kadar horor di cerita ini.

Cerita ini sudah lamaaa sekali terjadi. Ini jaman saya ikut seminar penyembuhan alternatif. Sekitar 10 tahun lalu, atau lebih? *buang KTP*. Nah, tempat saya ikut seminar dan kemudian magang sebagai penyembuh itu letaknya di sebuah radio swasta di Semarang. Di sebelah radio itu, ada semacam aula yang dikelilingi kaca, macam buat nari atau yoga dan ditutup karpet. Nyaman sekali. Satu hari, saya penasaran dengan meditasi. Saya bertanya pada teman saya, apakah meditasi itu sama seperti yang saya lakukan setiap ikut seminar? Ternyata teman saya ingin bereksperimen dengan model meditasi yang lain. Dan masuklah saya, dua teman saya yang lain yang juga masih newbie di bidang meditasi.

Ruangannya adalah aula yang saya ceritakan tadi. Kami duduk, berjarak sekitar 2,5 meter satu sama lain. Berdoa, dan merem, konsentrasi dengan musik yang disetel teman saya. Belakangan saya tahu itu adalah musik yang katanya dari Tibet, dan syairnya semacam dzikir dalam agama Islam yang diulang-ulang. Musiknya sendiri ada semacam cengkok Chinese -nya. Enak dan adem. Tapi di tengah-tengah meditasi, saya mendengar gedubrak di samping saya. Takut-takut saya ngintip dari ujung mata saya. Ternyata teman saya yang lain, satu-satunya cowok, sedang berguling-guling. Saya jadi hilang konsentrasi dan membubarkan meditasi saya. Teman saya yang semula mengajak meditasi dengan musik itu, sedang sibuk dengan mengusap-usap teman saya yang sedang berguling-guling. Ada apa dengan Cin....dengannya? Ternyata teman saya ini sedang kerasukan. Ga tanggung-tanggung. Ada 6 atau lebih roh yang masuk dalam dirinya. Antara seram dan kepo, saya tetap berada di dalam ruangan. Setelah dipijit, diberi doa, sesekali ditampar, akhirnya teman saya sadar juga. Alhamdulillah...

Sejak saat itu, saya merasa seram tiap kali mendengar musik itu meski beberapa kali teman saya mengatakan itu bukan karena lagu itu, melainkan dirinya yang membiarkan dirinya kosong, hingga membuat banyak roh berebut masuk ke dalam jiwanya. Yah, boro-boro merem, yang melek aja, ada aja yang sekali kena keplak orang jahat, jadi linglung juga. Jadi, mari kita terus berdzikir ya, temans. Jangan biarkan pihak 'lain' 'menjajah' diri kita. Tsaahh....

PS.
Yang mau dengerin lagunya, bisa unduh di dropbox saya. Buat yang kepo aja. Judulnya Dae Be Zoo. Jangan tanya artinya yaaa :D

Eh, masih seputar musik ini, saya masih punya stok cerita lainnya. Jadi, BERSAMBUNG deh. Stay tuned!!


Cerita Lila